YUSUF >MANASYE

SUKU YUSUF : MANASYE KEJADIAN 41:51 Yusuf memberi nama Manasye kepada anak sulungnya itu, sebab katanya: "Allah telah membuat aku lupa sama sekali kepada kesukaranku dan kepada rumah bapaku." Shalom Warga Kerajaan Sorga. Satu hal yang menarik tentang Yusuf adalah bahwa secara teknis tidak ada suku bernama Yusuf di antara dua belas suku, ketika bangsa Israel menerima warisannya di Kanaan. Sebaliknya, kedua putra Yusuf, Manasye dan Efraim, masing-masing dihitung sebagai sebuah suku. Dengan cara ini, Yusuf menerima porsi ganda melalui putra-putranya. Suku Yusuf terbagi dua dan artinya Yusuf mendapat dua wilayah sebagai warisan. Kisah Yusuf dimulai ketika dia mengalami penolakan dan dibenci oleh saudara-saudaranya. Yusuf dibuang ke dalam sumur, dan dijual sebagai budak. Apa yang tampak seperti penolakan menjadi bagian dari rencana Allah menuju panggilan Yusuf. KEJADIAN 50:20 mengatakan: "Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka...

HATI YANG BAIK DAN BERBUAH

TANAH YANG BAIK - HATI YANG BAIK & BERBUAH LUKAS 8:8, 15 Dan sebagian jatuh di tanah yang baik, dan setelah tumbuh berbuah seratus kali lipat." Setelah berkata demikian Yesus berseru: "Siapa mempunyai telinga untuk mendengar, hendaklah ia mendengar!" Yang jatuh di tanah yang baik itu ialah orang, yang setelah mendengar firman itu, menyimpannya dalam hati yang baik dan mengeluarkan buah dalam ketekunan." Kondisi "tanah" atau hati yang terakhir di dalam perumpamaan sang penabur, adalah tanah yang baik alias hati yang baik dan berbuah. Ketika Yesus berkata, "siapa mempunyai telinga untuk mendengar, hendaklah ia mendengar,” Ia tidak berbicara tentang pendengaran fisik. Banyak yang mendengar firman-Nya, tetapi tidak semua benar-benar menerimanya. Ini adalah peringatan rohani bagi kita semua, untuk tidak hanya mendengarkan secara sambil lalu, atau memperlakukan firman Tuhan sebagai informasi, tetapi menanggapi firman dengan perhatian, kerendahan hati, dan keterbukaan. Kita dapat duduk di gereja, membaca Alkitab setiap hari, atau mendengarkan khotbah, tetapi firman tidak berakar, bertumbuh dan berbuah. Perbedaannya bukanlah penyampaian firman-Nya, tetapi cara penerimaan kita. Mendengar firman kemudian menjadi berbuah di dalam kehidupan kita ketika hati terlibat dan mau diajar. Yesus menjelaskan apa yang membuat “tanah yang subur” berbeda. Ini bukan tentang kecerdasan atau latar belakang, ini tentang kondisi hati. Hati yang baik itu hati yang jujur di hadapan Tuhan, rendah hati dan mudah diajar. Bersedia berubah dan mau tekun dalam melakukan ini. Perhatikan ayat bacaan hari ini mengatakan bahwa hati yang baik menerima firman kemudian firman akan berbuah. Artinya firman akan terlihat atau menjadi tindakan dan perkataan yang seturut firman jika pribadi itu tekun. Ayat ini menjelaskan bahwa, hati yang "mengeluarkan buah dalam ketekunan". Hanya di dalam ketekunan, hidup ini akan berbuah. Mereka yang tekun akan terus mendengarkan firman dan cara mendengarkannya berbeda dengan yang lain. Pribadi ini akan mendengarkan, bercermin kepada firman, mau diubahkan, melakukan dan mau bertumbuh. Setelah itu Tuhan sendiri akan bekerja dalam kehidupan ini untuk menumbuhkan buah kebenarannya (2 KORINTUS 9:10). Pribadi seperti ini memiliki hati yang baik, setelah ia mendengarkan firman, ia mempertahankan firman di dalam dirinya. Banyak orang terinspirasi pada hari Minggu, tetapi tidak berubah pada hari Rabu. Mengapa? Firman itu tidak dipertahankan. Allah selalu menabur firman-Nya, tetapi panennya bergantung pada kondisi hatimu. Kehidupan yang berbuah bukanlah tentang mendengar lebih banyak khotbah saja, tetapi mendengarkan dengan hati yang mau diubah dan tekun melakukannya. Inilah tanah yang subur. AMIN ! GBU

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

TANDA ORANG YANG MENGANDALKAN TUHAN

HIDUP TANPA TERSINGGUNG

Terang yang Datang ke Dunia