YUSUF >MANASYE
SUKU YUSUF : MANASYE
KEJADIAN 41:51 Yusuf memberi nama Manasye kepada anak sulungnya itu, sebab katanya: "Allah telah membuat aku lupa sama sekali kepada kesukaranku dan kepada rumah bapaku."
Shalom Warga Kerajaan Sorga.
Satu hal yang menarik tentang Yusuf adalah bahwa secara teknis tidak ada suku bernama Yusuf di antara dua belas suku, ketika bangsa Israel menerima warisannya di Kanaan. Sebaliknya, kedua putra Yusuf, Manasye dan Efraim, masing-masing dihitung sebagai sebuah suku. Dengan cara ini, Yusuf menerima porsi ganda melalui putra-putranya. Suku Yusuf terbagi dua dan artinya Yusuf mendapat dua wilayah sebagai warisan.
Kisah Yusuf dimulai ketika dia mengalami penolakan dan dibenci oleh saudara-saudaranya. Yusuf dibuang ke dalam sumur, dan dijual sebagai budak. Apa yang tampak seperti penolakan menjadi bagian dari rencana Allah menuju panggilan Yusuf. KEJADIAN 50:20 mengatakan: "Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan". Manusia bisa menolak Anda, memfitnah Anda, menghakimi Anda bahkan memberikan stigma negatif atas diri Anda, tetapi itu tidak akan pernah bisa menggagalkan rencana indah Tuhan bagi Anda. Sumur dan perbudakan itu bukan tujuan Yusuf. Itu adalah bagian dari perjalanannya menuju keberhasilan.
Di ayat bacaan hari ini, Manasye adalah anak sulung Yusuf, lahir di Mesir. Namanya berarti "melupakan" atau "membuat lupa." Yusuf menamainya Manasye karena Allah telah membantunya bergerak melampaui rasa sakit masa lalunya. Yusuf telah mengalami penolakan, pengkhianatan, perbudakan, tuduhan palsu, dan penjara. Namun Allah membawanya ke tempat pengaruh dan berbuah. Manasye menjadi pengingat bahwa sejarah menyakitkan Anda tidak harus menentukan warisan masa depan Anda. Terkadang kita masih membawa masa lalu ke hari ini. Kita merasa tertuduh, gagal dan tidak nyaman. Kegagalan masa lalu bisa menjadi ketakutan hari ini. Kekecewaan masa lalu menjadi ketidakpercayaan besok. Tetapi Tuhan dapat membawa kesembuhan dan masa depan yang berbuah.
Manasye adalah satu suku, tetapi warisannya dibagi di kedua sisi Sungai Yordan. Setengah dari suku menetap di sebelah timur Yordan, sementara setengah lainnya menerima wilayah barat Yordan. Manasye menerima warisan yang melampaui satu lokasi. Berkat Tuhan selalu melampaui apa yang kita doakan dan pikirkan.
Dalam YOSUA 17, keturunan Yusuf sempat mengeluh bahwa wilayah mereka terlalu kecil dan musuh di tanah Kanaan itu kuat. Yosua mengatakan kepada mereka untuk "membuka tanah" dan dengan jumlah yang besar, mereka pasti mengalahkan musuh dan sanggup menduduki dan memiliki tanah yang lebih besar lagi untuk mereka. Suku Manasye melihat kekuatan musuh, Yosua melihat warisan yang diberikan Allah. Tantangan itu nyata. Musuh itu kuat. Tetapi kehadiran sebuah rintangan tidak berarti janji Tuhan akan dihalangi. Justru sebuah rintangan akan menunjukkan siapa yang berkuasa dan kemuliaan Tuhan pasti dinyatakan.
Terkadang kita berasumsi: "Jika sulit, mungkin Tuhan tidak ingin saya memilikinya." Tetapi kesulitan tidak secara otomatis berarti sebuah penolakan. Ada warisan, tetapi ada juga pergumulan. Ada janji, tapi ada juga tanggung jawab. Ada kasih karunia, tetapi ada juga keberanian yang diperlukan. Iman tidak menyangkal keberadaan sebuah rintangan, iman itu percaya bahwa janji Allah lebih besar dari kekuatan musuh.
Yosua menyuruh suku Manasye untuk membersihkan hutan dan mengambil alih tanah itu. Jangan hanya meminta Tuhan untuk lebih banyak atau lebih besar dari apa yang kita miliki sekarang, sebelum belajar untuk mengelola apa yang ada di tangan Anda dengan benar. Kembangkanlah apa yang telah Tuhan berikan kepada Anda dengan membersihkan semua rintangan di depan mata perlahan-lahan dengan pertolongan Tuhan. Terkadang kita minta lebih banyak dari Tuhan, tetapi lupa untuk mengelola apa yang sudah ada di tangan kita.
Bayangkan seseorang menerima sebidang tanah besar yang ditutupi hutan lebat. Mereka memandangnya dan berkata: "Tidak ada apa-apa di sini." Tetapi pemberi tanah itu mengatakan: “Ada warisan di sini. Kamu hanya perlu membersihkannya.” Tanah itu tidak kosong. Tanah itu belum dibersihkan dan dikembangkan. Kadang-kadang apa yang kita sebut "tidak ada" sebenarnya adalah sesuatu yang Tuhan berikan kepada kita yang belum kita kembangkan.
Pelayanan Anda mungkin belum berkembang. Kepemimpinan Anda mungkin tidak berkembang. Potensi Anda mungkin belum berkembang. Jangan salah mengira bahwa wilayah hidup yang belum berkembang adalah wilayah yang tidak berharga. Dari suku Manasye kita belajar untuk meninggalkan masa lalu dan menatap masa depan indah bersama Tuhan. Jangan sampai paradigma masa lalu masih menguasai kita, jangan melihat sebuah rintangan berarti sebuah kegagalan. Ada berkat Tuhan menanti di balik rintangan hari ini. AMIN !
Amin🙏
BalasHapus