DIUJI SAAT NYAMAN

DIUJI SAAT NYAMAN KEJADIAN 12:5 Abram membawa Sarai, isterinya, dan Lot, anak saudaranya, dan segala harta benda yang didapat mereka dan orang-orang yang diperoleh mereka di Haran; mereka berangkat ke tanah Kanaan, lalu sampai di situ. Shalom Abraham adalah orang kaya ketika Allah mengujinya. Tuhan tidak menguji Abraham karena ia tidak kehilangan apa-apa. Ia mengujinya karena Abraham telah menerima sesuatu yang berharga dan Allah ingin mengungkapkan apakah Abraham mengasihi Sang Pemberi lebih dari pemberianNya itu. Abraham sudah sangat diberkati sebelum ia diperintahkan Tuhan untuk meninggalkan negerinya di tanah Ur untuk pergi ke tanah Kanaan. Abraham sudah makmur secara material ketika Tuhan memanggilnya untuk meninggalkan Ur. Hal ini membuat panggilannya sangat signifikan, bahkan Abraham meninggalkan Ur tanpa mengetahui tujuannya kemana dia harus pergi. Tuhan hanya memberikan arah bukan tujuan akhir. Di KEJADIAN 12:1, Berfirmanlah TUHAN kepada Abram: "Pergilah dari negeri...

JANGAN TAKUT



JANGAN TAKUT

Matius 8:23-27 TB

[23] Lalu Yesus naik ke dalam perahu dan murid-murid-Nya pun mengikuti-Nya. [24] Sekonyong-konyong mengamuklah angin ribut di danau itu, sehingga perahu itu ditimbus gelombang, tetapi Yesus tidur. [25] Maka datanglah murid-murid-Nya membangunkan Dia, katanya: ”Tuhan, tolonglah, kita binasa.” [26] Ia berkata kepada mereka: ”Mengapa kamu takut, kamu yang kurang percaya?” Lalu bangunlah Yesus menghardik angin dan danau itu, maka danau itu menjadi teduh sekali. [27] Dan heranlah orang-orang itu, katanya: ”Orang apakah Dia ini, sehingga angin dan danau pun taat kepada-Nya?”   

 Bagi para murid, itu adalah badai yang membuat mereka dalam kegelisahan. Bagi kita, itu bisa berupa situasi pekerjaan, masalah keuangan, kondisi kesehatan, atau masalah hubungan, di antara komplikasi lainnya.

Ada, secara harfiah, ratusan alasan logis untuk menyerah pada rasa takut.

Namun, Alkitab dengan jelas menyatakan bahwa Allah tidak bermaksud agar kita menyerah pada rasa takut. Bahkan, Anda mungkin pernah mendengar bahwa frasa "jangan takut" muncul lebih dari 365 kali dalam Alkitab.

Sementara kita pasti akan menghadapi situasi yang menakutkan dalam hidup, respons kita terhadap ketakutan sangat penting. Kita tidak dapat menghindari keadaan yang mengganggu ketenangan kita, tetapi kita dapat memilih untuk melawannya dengan cara yang benar.

Jadi, apa penangkal rasa takut?

Jawabannya ditemukan dalam kata-kata Yesus dalam Matius 8:26: "Mengapa kamu takut, hai kamu yang kurang percaya?"

Ayat ini tidak mengatakan, “Hai kamu yang kurang keberanian” atau “kurang pendidikan,” tetapi, “kamu yang kurang percaya." (Berikan perhatian pada yang saya tekankan)

Jelas, kita dapat menyerah pada rasa takut - atau beroperasi melalui iman.

Iman menginspirasi seorang gembala muda, Daud, untuk mengalahkan pahlawan perang terkenal yang dua kali ukurannya, sementara pasukan Israel yang lain gemetar ketakutan.

Iman membuat Yosua dan rekan-rekannya menaklukkan kota berbenteng dengan berbaris di sekelilingnya selama tujuh hari.

Iman mendorong Petrus untuk keluar dari perahu dan berjalan di atas air di tengah lautan berbadai (sampai rasa takut mengambil alih).

Apakah Anda berpegang pada rasa takut? Ketahuilah bahwa Anda dapat melangkah keluar dari perahu dengan iman ketika Anda terus menatap Yesus. Berdoalah untuk iman seukuran biji sesawi yang akan tumbuh bersama setiap langkah ketaatan.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

HIDUP TANPA TERSINGGUNG

TANDA ORANG YANG MENGANDALKAN TUHAN

Terang yang Datang ke Dunia