DITANAM DAN BERTUNAS

DITANAM DAN BERTUNAS MAZMUR 92:13 mereka yang ditanam di bait TUHAN akan bertunas di pelataran Allah kita. Shalom Pohon tidak bertumbuh subur karena sering dipindahkan. Pohon bertumbuh subur karena ditanam. Banyak orang menginginkan buah berkat, kedamaian, hikmat, dan kekuatan rohani, tetapi mereka kesulitan untuk berakar. Allah merancang pertumbuhan untuk datang melalui tinggal, menetap, dan tetap terhubung dengan-Nya. Pemazmur membandingkan orang percaya dengan pohon yang ditanam di rumah Allah. Pohon yang ditanam bertahan dari badai karena akarnya menancap dalam. Dengan cara yang sama, orang percaya yang tetap berakar di hadirat Allah, firman-Nya, doa, dan persekutuan mengembangkan kestabilan bahkan selama musim-musim sulit. "Ditanam" berarti kesetiaan kepada firman Tuhan ketika emosi mulai menguasai kita. Komitmen ketika cobaan datang. Tetap terhubung dengan firman Tuhan ketika hidup menjadi sibuk. Terus percaya kepada Tuhan bahkan ketika masalah masih ada. Poho...

AKAR DARI IRI HATI

 


Hari 5—Akar dari Iri Hati

Mazmur 84:10-12 (TB)  (84-11) Sebab lebih baik satu hari di pelataran-Mu dari pada seribu hari di tempat lain; lebih baik berdiri di ambang pintu rumah Allahku dari pada diam di kemah-kemah orang fasik. 

(84-12) Sebab TUHAN Allah adalah matahari dan perisai; kasih dan kemuliaan Ia berikan; Ia tidak menahan kebaikan dari orang yang hidup tidak bercela. 

(84-13) Ya TUHAN semesta alam, berbahagialah manusia yang percaya kepada-Mu! 

Sulit bagi pikiran kita yang terbatas untuk memahami kelimpahan yang ada di dalam Kristus. Kita takut "berkat" atau nasib baik akan habis, atau mungkin Allah akan lupa akan diri kita. Kita ingin dilihat, diperhatikan, diselamati. Namun ketika kita melihat orang lain diberkati ini membangkitkan iri hati kita dan kita bertanya-tanya apakah Dia benar mengasihi kita.

Iri hati tidak dilahirkan dari perasaan memandang rendah atas berkat orang lain. Itu adalah buah dari iri hati. Saya yakin bahwa akar dari iri hati adalah tidak percaya kepada Allah.

Saya bisa melacak iri hati kembali ke kekecewaan dan mungkin amarah terhadap Allah. Bukan karena saya merasa frustasi karena orang lain memilki sesuatu yang tidak saya miliki. Saya merasa frustasi karena Allah belum atau kelihatannya tidak akan memberikan saya apa yang saya pikir layak saya dapatkan, dan jika saya benar-benar jujur, saya tidak percaya jika Ia tahu yang terbaik.

Tidakkah seharusnya Dia adalah Tuhan yang baik? Ketidakpercayaan kepada Allah muncul dari kurangnya pengenalan akan Dia dalam sifat alaminya; mengenal atau mengingat karakter-Nya yang sebenarnya. Dia baik tak terbatas. Dia berjanji untuk melakukan segalanya untuk kebaikan kita, namun kebaikan-Nya tidak bisa diukur dari pemberian akan apa yang kita mau. Itu bukanlah pola asuh yang bijaksana. Faktanya, penting untuk diingat bahwa Dia adalah kasih, jadi segala yang Ia lakukan bisa disaring dari sudut pandang itu.

Dia juga kaya tanpa batas. Mazmur berkata bahwa "punya-Kulah segala binatang hutan, dan beribu-ribu hewan di gunung," yang artinya Dia memiliki segalanya dan Dia tidak akan pernah kehabisan. Percayakah Anda? Bisakah kita percaya bahwa Dia melihat gambar besar dari hidup kita dan mungkin ada hal-hal yang kita tidak begitu pahami? Mungkinkah apa yang Dia simpan untuk kita begitu jauh melampaui imajinasi kita yang paling liar? Apakah kita memiliki kepercayaan atas hal itu? Saya pernah mendengar orang berkata, "Anda bisa memiliki Tuhan, atau Anda bisa memiliki pengetahuan, tapi jarang Anda memiliki keduanya."

Mazmur 50:9-12 TB

[9] Tidak usah Aku mengambil lembu dari rumahmu atau kambing jantan dari kandangmu, [10] sebab punya-Kulah segala binatang hutan, dan beribu-ribu hewan di gunung. [11] Aku kenal segala burung di udara, dan apa yang bergerak di padang adalah dalam kuasa-Ku. [12] Jika Aku lapar, tidak usah Kukatakan kepadamu, sebab punya-Kulah dunia dan segala isinya.

Apakah Tuhan cukup bagi kita?

Mencapai tempat perhentian dimana Tuhan itu cukup datang dari pengetahuan akan sifat bawaan-Nya. Mengenal sifat bawaan-Nya berasal dari menghabiskan waktu dalam hadirat-Nya, untuk mengenal-Nya dengan lebih baik. Seperti yang Brennan Manning katakan, "Anda akan percaya pada Tuhan sebanyak Anda mengasihi-Nya. Dan Anda akan mengasihi-Nya sampai batas Anda menjamah Dia, bukan karena Dia menjamah Anda."

Disini kita belajar bahwa Dia tidak menahan-nahan dari kita atau menghukum kita. Dia adalah Bapa yang baik, dan Dia rindu untuk memberkati anak-anak-nya. Namun kelihatannya bisa berbeda dari yang kita harapkan. Jika kita bisa membiarkan perasaan iri hati, ragu, marah, dan frustasi mendorong kita menuju hati-Nya bukan menjauhinya, kita akan merasa bahwa Dia selalu memiliki rancangan yang jauh lebih besar daripada yang bisa kita bayangkan. Harapan kita bukan untuk mendapatkan apa yang kita inginkan. Harapan kita adalah mencapai inti dari hati-Nya, tempat kepuasan yang sejati.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

HIDUP TANPA TERSINGGUNG

MEMILIH TAAT

HATI TERIKAT PADA TUHAN,BUKAN HARTA