MARILAH KEPADAKU
MARILAH KEPADAKU
MATIUS 11:28 Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.
Shalom
Yesus tidak pernah mengajar bahwa iman yang kita gunakan untuk percaya kepada-Nya itu melelahkan. Iman tidak pernah dimaksudkan menjadi beban bagi diri kita.
Terkadang, kita secara keliru percaya bahwa memiliki iman yang kuat berarti hati dan pikiran kita tidak pernah merasa lelah. Yesus tidak pernah bermaksud agar hubungan kita dengan Dia menjadi perjuangan tanpa akhir untuk membuktikan seberapa besar iman yang kita miliki. Kekristenan bukan tentang seberapa besar kekuatan yang dapat kita hasilkan untuk Tuhan. Ini adalah tentang belajar untuk bergantung pada kekuatan yang berasal dari Tuhan.
Iman kita bukanlah kemampuan untuk bisa menanggung segala sesuatu; iman adalah mengetahui siapa yang harus dipercaya ketika kita tidak dapat menanggung segala sesuatu. Yesus tidak mengundang orang-orang yang kelelahan pikiran dan hati untuk melakukan lebih banyak kegiatan atau ritual keagamaan. Dia mengundang mereka untuk datang kepada-Nya.
Menurut ayat bacaan hari ini, undangan pertama Yesus bukanlah "Cobalah lebih keras," "Bekerjalah lebih keras," atau "Buktikan imanmu." Yesus berkata, "Marilah kepada-Ku". Kata Yunani untuk "marilah atau datang" adalah "deute", sebuah undangan untuk mendekati seseorang. Perhatikan bahwa Yesus tidak berkata: Datanglah ketika kamu memiliki iman yang kuat. Yesus mengundang kita untuk datang sebagaimana adanya kita.
Ini penting karena terkadang kita menghabiskan begitu banyak energi untuk memperkuat diri kita sehingga kita melupakan Dia yang merupakan sumber kekuatan kita. Kehidupan Kristen tidak ditopang oleh kekuatan iman kita saja, tetapi oleh kesetiaan dari Tuhan yang di dalamnya kita menempatkan iman kita.
Keyakinan kita bukan pada kesempurnaan iman kita tetapi pada kesempurnaan Yesus. Kita dapat menjadi begitu sibuk dengan berusaha memenuhi harapan, memuaskan orang, membuktikan diri, dan mempertahankan penampilan sehingga kita kehilangan sukacita berjalan bersama Yesus. Terkadang, kelelahan yang kita alami bukan karena kita mengikuti Yesus terlalu dekat, tetapi karena kita membawa hal-hal yang tidak pernah Dia minta untuk kita bawa.
Kitab Ibrani menjelaskan bahwa Tuhanlah yang adalah pemimpin, pembawa dan penyempurna iman kita yang seringkali lemah (IBRANI 12:2). Bahkan ayat bacaan hari ini mengungkapkan bahwa Yesus sendiri yang berkata, "aku akan memberi kelegaan". Ini berarti Yesus memberi kita istirahat, menyegarkan, atau memberikan bantuan.
Yesus berkata, "Marilah atau datanglah kepada-Ku, maka Aku akan memberi kamu kelegaan." Ini tidak berarti kita berhenti melayani, menjadi tidak taat, atau berhenti bertahan. Itu berarti kita berhenti berusaha untuk mendapatkan penerimaan Tuhan melalui kinerja kita.
Elia seorang nabi dengan nama besar mengalami kelelahan batin (1 RAJA-RAJA 19:1-8). Setelah kemenangan dramatisnya melawan para nabi Baal di Gunung Karmel, Elia menjadi takut, putus asa, dan kelelahan secara emosional. Ia bahkan meminta Allah untuk mengambil nyawanya (1 RAJA-RAJA 19:4). Menariknya, Tuhan tidak segera menegur Elia karena tidak memiliki iman yang teguh dan konsisten. Sebaliknya, Tuhan mengizinkannya untuk tidur, menyediakan makanan dan air, dan memberinya waktu untuk pulih.
Ada pelajaran yang indah di sini, jangan lari dari Tuhan dan merasa bersalah ketika Anda dalam kondisi lemah atau letih. Kita tidak perlu berusaha atau berupaya lebih lagi untuk mendapatkan pertolongan Tuhan. Datanglah kepada-Nya dengan semua keberadaan kita dan katakan, "aku lemah Tuhan, aku tidak bisa berdoa Tuhan, aku bingung Tuhan, aku takut Tuhan". Lihatlah dan alami kelegaan setelah itu, karena hanya Tuhan Yesus yang bisa berikan itu semua. AMIN !
Amiiiiin🙏
BalasHapus