TUJUAN HIDUP

TUJUAN HIDUP Orang tidak akan jadi malas kalau tahu tujuan hidupnya. Pengkhotbah 12:13 Akhir kata dari segala yang didengar ialah: takutlah akan Allah dan berpeganglah pada perintah-perintah-Nya, karena ini adalah kewajiban setiap orang. Shalom Orang Kristen tidak akan malas ketika ia memahami tujuan hidupnya yaitu memuliakan Allah, mengasihi sesama dan mengerjakan mandatNya. Kolose 3:23 Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. Pemalas biasanya bekerja hanya saat diawasi atau demi uang semata, namun orang yang tahu tujuan hidupnya akan rajin, jujur dan bersemangat dalam pekerjaan apapun, baik dikantor, dirumah maupun dalam pelayanan karena mereka tahu sedang melayani Kristus. 2 Tesalonika 3:7-8 Sebab kamu sendiri tahu, bagaimana kamu harus mengikuti teladan kami, karena kami tidak lalai bekerja di antara kamu, dan tidak makan roti orang dengan percuma, tetapi kami berusaha dan berjerih payah siang malam, supa...

POSMODERNISME

POSMODERNISME YOHANES 14:6 Kata Yesus kepadanya: "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku. Shalom Ada sebuah pemahaman atau pandangan dunia yang bernama Posmodernisme, pandangan ini menganggap bahwa tidak ada kebenaran mutlak atau tunggal. Pemahaman Posmodernisme melihat Alkitab itu hanya tafsiran manusia belaka dan tidak memuat kebenaran yang mutlak. Posmodernisme juga melihat bahwa Kristen itu sama atau setara dengan agama lainnya dalam hal kebenarannya. Ini mereduksi kebenaran bahwa hanya Yesus satu-satunya jalan, kebenaran dan hidup. Iman Kristen dimulai di suatu tempat yang sangat berbeda: kebenaran bukanlah sesuatu yang kita ciptakan; kebenaran adalah sesuatu yang Allah ungkapkan. Yesus tidak berkata, "Aku adalah salah satu interpretasi kebenaran yang ada di dunia ini." Yesus jelas-jelas menyatakan: "Akulah jalan, dan kebenaran, dan hidup" (YOHANES 14:6). Ini berarti Kekristenan bukan hanya tentang memilih sebuah nilai kebenaran saja. KeKristenan itu artinya kita percaya kepada satu Pribadi yang merupakan kebenaran itu sendiri. Ingatlah, kebenaran lebih besar dari perasaan kita. Budaya kita sering mengatakan, "Ikuti hatimu." Alkitab memberikan kita panduan bahwa, "Betapa liciknya hati, lebih licik dari segala sesuatu" (YEREMIA 17:9). Perasaan hati kita memang nyata, tetapi perasaan itu tidak selalu dapat diandalkan menjadi panduan untuk kebenaran. Perasaan bisa berubah. Firman Tuhan tidak. Ketika emosi kita bertentangan dengan firman Tuhan, seringkali logika manusia kita akan mulai mengatakan bahwa firman Tuhan itu sebuah kebodohan (1 KORINTUS 2:14). Disinilah logika manusia kita akan menentang firman Tuhan dan mulai mensahkan sebuah dosa karena kita terbawa perasaan dan pikiran kita yang selalu memiliki kecenderungan untuk berdosa. Kebenaran firman tidak akan berubah dengan adanya opini populer saat ini. Paulus memperingatkan Timotius: "Karena akan datang waktunya, orang tidak dapat lagi menerima ajaran sehat, tetapi mereka akan mengumpulkan guru-guru menurut kehendaknya untuk memuaskan keinginan telinganya" (2 TIMOTIUS 4:3). Kebenaran tidak ditentukan oleh suara mayoritas. Ingatlah, sesuatu tidak menjadi benar karena semua orang menyatakan itu benar, dan sesuatu tidak menjadi salah karena semua orang menolaknya. Oleh karena itu gereja dan kita sebagai orang percaya memiliki tanggung jawab untuk tetap setia kepada Kitab Suci, bahkan ketika kebenaran firman menjadi tidak populer. Berdiri untuk kebenaran tidak berarti menjadi sombong. Petrus berkata: "Tetapi kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan! Dan siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu, tetapi haruslah dengan lemah lembut dan hormat" (1 PETRUS 3:15). Kebenaran tanpa kasih bisa menjadi arogansi dan sebuah kesombongan. Sebuah kasih tanpa kebenaran bisa menjadi sebuah kompromi. Yesus memanggil kita untuk mempertahankan kebenaran dan menyebarkannya dengan kasih dan lemah lembut. Yesus tidak pernah takut untuk menghadapi pertentangan dari dunia, tetapi Dia juga tahu kapan tidak membela diri. Ketika Ia dituduh secara palsu di hadapan para penganiaya-Nya, Yesus tidak membuka mulutnya (YESAYA 53:7). Ada saat-saat ketika kita perlu menjelaskan kebenaran. Ada juga saat-saat ketika kita perlu diam dan membiarkan Tuhan membela kita. Tidak setiap tuduhan membutuhkan jawaban. Tidak setiap kesalahpahaman membutuhkan koreksi kita. Tidak setiap kritik layak mendapat tanggapan. Terkadang iman berkata: "Aku tahu kebenaran, dan aku akan percaya kepada cara Tuhan supaya orang lain bisa percaya". Paulus berkata kepada orang-orang percaya: "Ujilah segala sesuatu dan peganglah yang baik" (1 TESALONIKA 5:21). Tantangan terhadap posmodernisme bukan hanya karena orang menolak Kekristenan. Tantangan yang lebih besar adalah bagaimana kita bisa membawa jawaban bagi mereka yang menolak percaya kepada Yesus sebagai satu-satunya Juruselamat manusia. Ingat, kasih mengalahkan segala sesuatu dan hanya kasih yang bisa memenangkan jiwa yang tersesat. Jangan terpancing dengan debat kusir, dengarkan pendapat mereka yang belum kenal Yesus dan bahkan menghina Yesus. Tawarkan doa Anda, beritahu kebenaran dengan kasih dan biarkan Yesus sendiri yang jamah hati mereka. Dan jangan pernah lupa untuk selalu memberi contoh dan teladan Yesus dari perilaku dan perkataan kita hari lepas hari. AMIN !

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

TANDA ORANG YANG MENGANDALKAN TUHAN

HIDUP TANPA TERSINGGUNG

Terang yang Datang ke Dunia