EFRAIM
SUKU YUSUF : EFRAIM
KEJADIAN 41:52 Dan kepada anaknya yang kedua diberinya nama Efraim, sebab katanya: "Allah membuat aku mendapat anak dalam negeri kesengsaraanku."
Shalom
Efraim adalah anak kedua Yusuf yang juga menjadi salah satu suku bangsa Israel yang mewarisi tanah. Yusuf adalah anak Yakub yang kesebelas dan yang pertama dari isterinya Rahel.
Menurut ayat bacaan hari ini, Yusuf menamainya Efraim karena Allah telah membuatnya mendapat anak atau "fruitful" dalam bahasa Inggris atau berbuah di tanah penderitaannya. Hidup yang berbuah atau berhasil, tidak selalu membutuhkan keadaan yang menguntungkan. Yusuf tidak menunggu sampai semuanya sempurna sebelum menjadi berbuah. Mesir bukanlah tanah yang awalnya diimpikan Yusuf, namun Tuhan membuatnya berkembang di sana. Kadang-kadang buah terbesar Tuhan tumbuh di tempat-tempat yang tidak pernah kita harapkan.
Efraim mengingatkan kita bahwa berkat Allah tidak dibatasi oleh kondisi hidup kita hari ini. Ketika Yakub memberkati anak-anak Yusuf, ia sengaja meletakkan tangan kanannya pada Efraim, anak yang lebih muda, daripada Manasye, yang lebih tua. Biasanya tangan kanan digunakan untuk memberkati anak sulung, bukan bungsu. Yusuf berusaha memperbaiki posisi tangan ayahnya, tetapi Yakub berkata: "Aku tahu, anakku, aku tahu" (KEJADIAN 48:19). Yakub memang tergerak dan mau memberkati Efraim dengan berkat "anak sulung". Itu sebabnya isi berkat Yakub untuk cucunya adalah: "ia juga akan menjadi suatu bangsa dan ia juga akan menjadi besar kuasanya; walaupun begitu, adiknya akan lebih besar kuasanya dari padanya, dan keturunan adiknya itu akan menjadi sejumlah besar bangsa-bangsa."
Anda mungkin merasa "lebih muda", diabaikan, atau kurang berkualitas. Tetapi signifikansi Anda tidak ditentukan oleh kondisi hidup Anda hari ini. Tuhan punya rencana besar bagi Anda.
Efraim menerima warisan yang signifikan. Suku Efraim menerima wilayah di daerah pegunungan tengah Kanaan. Silo, tempat tabernakel atau kemah Musa (rumah ibadah saat itu) berada di wilayah Efraim (YOSUA 18:1; 1 SAMUEL 1:3). Wilayah suku Efraim menjadi wilayah pertama bagi tabernakel Musa untuk berdiam secara permanen, setelah sekian lama ikut mengembara di padang gurun bersama bangsa Israel dengan posisi yang selalu berpindah tempat.
Efraim mengajarkan kita bahwa berbuah dapat menjadi kesombongan. Tuhan dapat memberi kita posisi, pengaruh dan jangkauan luas dalam pekerjaan dan pelayanan kita, tetapi kita tetap harus menjaga hati dan tidak sombong. Pertanyaannya bukan hanya, "Berapa banyak yang telah Allah berikan kepadaku?" Pertanyaan yang lebih dalam adalah, "Apakah saya menjadi pribadi yang rendah hati dan cakap mengelola apa yang Tuhan titipkan, atau saya menjadi sombong dan mulai tidak mengandalkan Tuhan dalam pengambilan keputusan dalam hidupku, setelah saya diberkati?"
Suku Efraim akhirnya dikaitkan dengan kemunduran kerohanian Israel. Allah telah membuat Efraim berbuah atau berhasil, tetapi hanya berbuah saja tidak cukup. HOSEA 13:1–2 menggambarkan suku Efraim yang menyembah berhala. Ini memberi kita prinsip yang serius: Berkat tanpa ketaatan dapat menjadi kesempatan untuk kesombongan. Tuhan tidak hanya ingin membuat kita sukses. Dia ingin kita setia. Mungkin Tuhan telah memberkati pelayanan Anda. Mungkin dia membuka pintu. Mungkin Dia telah memberi Anda pengaruh, sumber daya, peluang, atau sebuah posisi penting. Jangan biarkan berkat Tuhan itu menjadi lebih penting dan lebih besar dari Sang Pemberi Berkat itu sendiri.
Tujuan hidup kita bukan hanya untuk berbuah saja, tetapi untuk tetap setia dan rendah hati. Kehidupan yang berbuah tanpa kerendahan hati dapat menghasilkan kesombongan. Pengaruh tanpa ketaatan dapat menghasilkan kompromi. Berkat tanpa mengingat siapa yang memberi berkat, dapat menghasilkan penyembahan berhala. Tetapi ketika berkat Tuhan disertai dengan kerendahan hati dan ketaatan, buah atau keberhasilan kita dapat menjadi berkat bagi orang lain. AMIN !
Amin ππ
BalasHapusAminπ
BalasHapusAmiiin,π
BalasHapus