AGNOSTISISME
AGNOSTISISME
MARKUS 9:24 Segera ayah anak itu berteriak: "Aku percaya. Tolonglah aku yang tidak percaya ini!"
Shalom
Apa itu agnostisisme? Agnostisisme adalah pandangan bahwa keberadaan atau sifat Tuhan tidak diketahui atau mungkin tidak dapat diketahui. Seorang agnostik akan berkata, "Saya tidak tahu apakah Tuhan itu ada, dan saya tidak memiliki cukup bukti untuk memastikannya."
Ada perbedaan antara ateisme dan agnostisisme. Ateisme tidak percaya akan adanya Tuhan sepenuhnya, sementara agnostisisme percaya bahwa tidak ada yang diketahui (atau dapat diketahui) tentang keberadaan Tuhan.
Alkitab menanggapi pertanyaan tentang Allah dengan serius, tetapi juga menyajikan Allah bukan hanya sebagai ideologi untuk diperdebatkan, tetapi sebagai Pribadi yang menyatakan diri-Nya. Kitab Suci mengungkapkan karakter Allah. Kekristenan menyatakan bahwa Allah telah menyatakan diri-Nya secara pribadi melalui Yesus Kristus. Bahkan Tuhan (Firman) menjelma jadi manusia, mati bagi manusia untuk menebus dosa-dosa kita kemudian bangkit di hari yang ketiga untuk mengalahkan kematian dan memberikan kita orang percaya kehidupan kekal bersama Dia kelak.
Alkitab berisi orang-orang yang mengajukan pertanyaan, bergumul dengan keraguan, dan berjuang untuk memahami cara-cara Tuhan. Tomas bahkan mengatakan bahwa ia membutuhkan bukti sebelum ia percaya bahwa Yesus telah bangkit (YOHANES 20:24-29). Yesus tidak menghukum Tomas karena dia ragu. Yesus justru bertemu dengannya dalam keraguannya dan mengundangnya untuk menemukan bukti dengan menunjukkan bekas luka di tubuhNya akibat proses penyaliban. Sebuah pertanyaan dapat menjadi pintu menuju iman yang sejati ketika kita bersedia untuk mengejar kebenaran dengan jujur.
Keraguan dan ketidakpercayaan tidak selalu sama. Ada perbedaan antara mengatakan: "Aku tidak mengerti" dan "Aku menolak untuk percaya." Yang pertama bisa menjadi awal dari sebuah pencarian akan kebenaran, yang kedua bisa menjadi keputusan untuk menutup pintu hati sebelum melanjutkan pencarian akan kebenaran.
Ayat bacaan hari ini mengungkapkan sebuah pernyataan yang sangat jujur. Seorang bapa datang kepada Yesus membawa anaknya yang dikuasai roh jahat. Ia percaya bahwa Yesus sanggup menolong, tetapi di dalam dirinya masih ada keraguan dan ketakutan. Ayah itu tidak berkata, “Saya sudah memiliki iman yang sempurna.” Ia justru mengakui dua hal sekaligus: “Aku percaya" dan “Tolonglah aku yang tidak percaya ini.” Ini menunjukkan bahwa iman dapat berjalan bersama pergumulan. Kita bisa percaya kepada Tuhan, tetapi pada saat yang sama masih bergumul dengan ketakutan, keraguan, dan pertanyaan. Tuhan tidak meminta kita berpura-pura kuat di hadapan-Nya.
Bawa keraguan kita kepada Yesus, bukan menjauh dari Yesus. Perhatikan ke mana ayah itu membawa keraguannya: kepada Yesus. Keraguan yang dibawa kepada Tuhan dapat menjadi awal dari sebuah kebenaran yang disingkapkan dan pertumbuhan iman. Kita tidak perlu menyembunyikan pergumulan kita dari Dia. Justru doa yang sederhana seperti: “Tuhan, aku percaya, tetapi imanku lemah. Tolong aku.” Itu merupakan doa yang akan segera dijawab dengan sebuah keteguhan dan penyingkapan kebenaran yang pasti akan memerdekakan kita yang masih ragu akan keberadaan Tuhan.
Kekuatan iman bukan terletak pada seberapa kuat kita percaya, tetapi kepada siapa kita percaya. Iman yang kecil kepada Kristus tetap mengarahkan kita kepada Kristus. Karena itu, ketika keadaan membuat kita berkata, “Tuhan, aku tidak tahu bagaimana semuanya akan terjadi,” kita masih dapat berkata: “Tetapi aku tahu kepada siapa aku berharap.” Tuhan tidak hanya bekerja setelah kita menjadi sempurna. Dia juga bekerja di tengah proses pertumbuhan iman kita. Bahkan Alkitab katakan Tuhanlah penyempurna iman kita (IBRANI 12:2). AMIN !
Amen
BalasHapusAmiiiin🙏
BalasHapusAmin🙏
BalasHapus