IDENTITAS PALSU VS IDENTITAS OTENTIK

IDENTITAS PALSU VS IDENTITAS OTENTIK MATIUS 23:27 Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu sama seperti kuburan yang dilabur putih, yang sebelah luarnya memang bersih tampaknya, tetapi yang sebelah dalamnya penuh tulang belulang dan pelbagai jenis kotoran. Shalom Siapa Anda ketika tidak ada yang menonton? Kita hidup di dunia di mana identitas dapat kita bangun dan buat untuk diri kita sendiri. Kita dapat mengedit foto kita, memilih foto mana yang kita akan tampilkan di sosial media, mengelola reputasi kita, dan menyajikan versi diri kita sendiri yang kita ingin orang percaya. Tetapi ada perbedaan antara gambar yang kita ciptakan dan identitas yang diberikan Tuhan. Identitas palsu mengatakan: "Aku butuh menutupi kegagalanku supaya aku terlihat baik di depan orang." Identitas yang otentik mengatakan: "Aku tahu siapa aku di dalam Kristus, aku lebih dari pemenang dan kegagalanku menjadi kesaksianku." Kehidupan Kristen bukan tentang menjadi lebih baik dalam berpura-pura. Ini tentang menjadi lebih jujur di hadapan Allah. Identitas palsu dibangun atas persetujuan orang. Salah satu kekuatan terkuat di balik identitas palsu adalah keinginan untuk diterima. Kita mengubah diri kita karena tergantung siapa yang ada di sekitar kita. Di sekitar orang-orang sukses, kita ingin tampil sukses. Di sekitar orang-orang spiritual, kita ingin tampil spiritual. Di sekitar orang-orang berpengaruh, kita ingin tampil penting. Di media sosial, kita dapat menyajikan versi terbaik dari diri kita sendiri. Di gereja, kita mungkin menyembunyikan bagian-bagian diri kita yang tidak ingin orang lihat. Kita akhirnya berpura-pura dan tidak mengenal identitas kita yang sebenarnya di dalam Kristus Yesus. Identitas palsu berfokus pada penampilan; identitas otentik berfokus pada hati. Yesus menghadapi para pemimpin agama yang tampak mengesankan secara eksternal tetapi secara spiritual mereka memiliki hati yang menghakimi dan merasa paling benar. Ayat bacaan hari ini menjelaskan bahwa sebuah makam bercat putih terlihat bersih di luar, namun di dalamnya adalah kematian. Itu adalah gambaran kemunafikan agama. Tuhan tidak terkesan dengan versi diri kita sendiri yang kita buat. Identitas palsu membutuhkan kebohongan dan kemunafikan yang konstan. Identitas palsu melelahkan karena Anda harus terus melindunginya. Jika aku berpura-pura menjadi sesuatu yang bukan diriku, aku harus mengingat cerita yang aku ciptakan. Tapi keaslian memberikan kebebasan. Yesus berkata bahwa kebenaran akan memerdekakan kita (YOHANES 8:32). Kebenaran membebaskan karena Anda akan katakan, "Aku lemah, tetapi Kristus kuat." "Aku telah gagal, tetapi kasih karunia Allah lebih besar." "Aku tidak tahu segalanya, tapi aku mengenal Yesus." Identitas yang benar akan jujur dan bahkan membawa kelemahan kita kepada Yesus. Keaslian tidak berarti merayakan kelemahan kita atau memaafkan dosa-dosa kita. Itu berarti membawa diri kita yang seadanya dan sejujurnya ke hadirat Tuhan sehingga Dia dapat mengubah kita. Identitas otentik datang sebelum perilaku. Anda tidak mematuhi Tuhan untuk menjadi anak Tuhan. Anda taat karena Anda sadar bahwa Anda adalah anak Allah. Seekor domba tidak berperilaku seperti domba karena berusaha mendapatkan identitas sebagai domba. Ia berperilaku sesuai dengan sifatnya karena ia adalah domba. AMIN !

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

HIDUP TANPA TERSINGGUNG

TANDA ORANG YANG MENGANDALKAN TUHAN

Terang yang Datang ke Dunia