KASIH KARUNIA MENDIDIK

KASIH KARUNIA MENDIDIK TITUS 2:11-12 Karena kasih karunia Allah yang menyelamatkan semua manusia sudah nyata. Ia mendidik kita supaya kita meninggalkan kefasikan dan keinginan-keinginan duniawi dan supaya kita hidup bijaksana, adil dan beribadah di dalam dunia sekarang ini Surat Paulus kepada Titus menguraikan bahwa kasih karunia Tuhan itu mendidik bukan ajakan untuk berbuat dosa. Banyak orang berpikir bahwa kasih karunia Yesus hanya mengampuni dosa. Tetapi Paulus mengungkapkan bahwa kasih karunia lebih dari sekadar pengampunan dosa saja, namun kasih karunia mendidik kita. Kasih karunia yang sama yang menyelamatkan kita (TITUS 2:11) juga mendidik dan mengubah kita (TITUS 2:12). Kasih karunia bukanlah izin untuk terus berbuat dosa; itu adalah kuasa Allah untuk mengubah hidup kita. Kata Yunani bagi kata "mendidik" adalah "paideuō" yang berarti melatih dan mendisiplinkan. Kasih karunia adalah guru yang mendidik untuk kita bisa hidup taat. Seringkali kita justru berpikir bahwa sebuah hukum, aturan dan ketetapan yang mendidik kita untuk hidup taat. Alkitab menjelaskan bahwa justru kasih karunia yang mendidik kita hidup di dalam ketaatan. Kita mungkin dulu punya guru yang galak dan berusaha mendidik kita dengan disiplin tinggi dan keras. Itu semua baik bagi kita. Namun, kita akan akan ingat dan terpengaruh ketika ada guru yang mendidik kita dengan kelemahlembutan bahkan perilakunya sangat penuh dengan kasih. Justru guru yang seperti ini bisa mengubah karakter kita. Kasih karunia adalah seperti guru yang penuh kasih atau orang tua yang bijaksana. Dengan sabar membentuk karakter kita dan membawa kita ke dalam kedewasaan. Kasih karunia Allah tidak hanya mengubah tujuan hidup kita; kasih karunia mengubah arah hidup kita. Kasih karunia mengajarkan kita untuk menyangkal apa yang menghina dan menolak Allah. Banyak nilai dunia yang menolak ajaran Alkitab. Ketika kita belajar menerima kasih Tuhan yang tidak pernah menuduh, murka dan menghakimi perbuatan kita ketika kita gagal, justru itu yang berpotensi besar untuk mengubahkan hidup kita. Ketika kita menggunakan Hukum Taurat atau aturan untuk mendidik kita, maka kita akan menggunakan kekuatan diri sendiri untuk hidup taat dan ujungnya pasti gagal karena kita tidak mampu untuk hidup taat secara konsisten. Namun ketika kita belajar menerima kasih karunia Tuhan dengan kesadaran bahwa Tuhan itu penuh dengan kasih, kelemahlembutan, belas kasihan, pengertian dan pelukan-Nya yang tanpa batas, kita akan makin hormat akan Pribadi itu. Kita akhirnya akan taat, karena di titik itu, ketaatan adalah hasil atau buah dari hubungan kita dengan Tuhan yang penuh kasih karunia. Ingat, di saat itu ketaatan kita akan berdasarkan kekuatan Tuhan bukan kekuatan kita sendiri, disinilah kita akhirnya bisa taat secara konsisten. AMIN !

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

HIDUP TANPA TERSINGGUNG

MEMILIH TAAT

TANDA ORANG YANG MENGANDALKAN TUHAN