JATUH KE DALAM DOSA VS HIDUP DI DALAM DOSA

JATUH KE DALAM DOSA VS HIDUP DI DALAM DOSA AMSAL 24:16 Sebab tujuh kali orang benar jatuh, namun ia bangun kembali, tetapi orang fasik akan roboh dalam bencana. Shalom Jatuh ke dalam dosa dan hidup di dalam dosa adalah dua hal yang berbeda di dalam kehidupan ini. Setiap orang percaya berjuang dengan dosa. Pertanyaannya bukan, "Apakah seorang Kristen akan pernah berdosa?" Tetapi lebih tepatnya, "Bagaimana orang Kristen sejati mengambil keputusan setelah jatuh ke dalam dosa?" Alkitab membuat perbedaan yang jelas antara jatuh ke dalam dosa dan hidup di dalam dosa. Satu sisi menggambarkan seorang percaya yang tersandung dan bertobat. Sisi yang lain menggambarkan seseorang yang telah jatuh ke dalam dosa, dan menjadikan dosa itu gaya hidup yang menetap di hidupnya tanpa pertobatan. Jatuh ke dalam dosa merupakan sebuah insiden, namun hidup di dalam dosa merupakan gaya hidup. Petrus menyangkal Yesus tiga kali (LUKAS 22:54-62). Ia jatuh ke dalam dosa karena ketakutan. Tetapi ketika Yesus memandangnya, Petrus menyesal, menangis dan kemudian dipulihkan oleh Yesus. Yudas juga berdosa. Tapi bukannya berbalik kepada Kristus dalam pertobatan, ia berbalik dalam keputusasaan dan bunuh diri. Perbedaannya adalah keputusan mereka setelah mereka berdosa. Seorang percaya mungkin jatuh, tetapi karena membiarkan anugerah Tuhan menginsafkan dia, pribadi itu akan kembali kepada Tuhan. Sementara ada pribadi yang membiarkan tuduhan iblis merusak pikirannya dan akhirnya berkubang di dalam dosa bahkan terus menerus melakukan dosa. Paulus mengaku di ROMA 7:19, "Sebab bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku perbuat, melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat, yang aku perbuat". Paulus sadar bahwa sebagai orang percaya, dia mau berbuat baik, namun memang kecenderungan dosa itu selalu ada karena kita masih hidup di dunia yang penuh kegelapan ini. Ketika Roh Kudus hidup di dalam kita, dosa akan membuat kita tidak nyaman dan akan membawa kita kembali kepada Bapa. Sebaliknya, hidup dalam dosa berarti merasa nyaman dengan apa yang Allah sebut jahat dan lama kelamaan, kebiasaaan dosa ini membuat hati kita menjadi keras. Yohanes mengajarkan bahwa orang Kristen bisa jatuh ke dalam dosa, namun ia tidak akan mau hidup di dalam dosa. 1 YOHANES 3:6 menjelaskan, "Karena itu setiap orang yang tetap berada di dalam Dia, tidak berbuat dosa lagi; setiap orang yang tetap berbuat dosa, tidak melihat dan tidak mengenal Dia". Orang percaya sejati mungkin tersandung, tetapi ia tidak dapat tetap damai ketika hidup di dalam pemberontakan dosa, karena Roh Kudus terus-menerus menginsafkan dan mendisiplinkan anak-anak Allah (IBRANI 12:6). Kasih karunia Allah mengembalikan kita yang jatuh. 1 YOHANES 1:9 mengatakan, "Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan". Kasih karunia bukanlah izin untuk berbuat dosa. Kasih karunia adalah kuasa Allah untuk mengembalikan orang berdosa kepada Yesus. Salib tidak hanya mengampuni dosa-dosa kita tetapi juga mengubah hati kita. Bayangkan seekor domba dan seekor babi. Seekor domba mungkin secara tidak sengaja jatuh ke dalam parit berlumpur. Ia berjuang untuk keluar karena lumpur bukan rumahnya. Seekor babi melompat ke lumpur, berguling di dalamnya, dan menikmati tinggal di sana karena itulah sifatnya. Demikian juga, orang percaya mungkin jatuh ke dalam dosa, tetapi sifat baru mereka merindukan kekudusan. Mereka yang hidup nyaman dalam dosa tanpa pertobatan mengungkapkan hati yang belum diubah. Bukti keselamatan bukanlah kesempurnaan tetapi ketekunan. Orang Kristen bukanlah mereka yang tidak pernah jatuh, mereka adalah pribadi yang terus-menerus diangkat Allah, mau di disiplin, dipulihkan dan menolak hidup di dalam dosa. AMIN !

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

HIDUP TANPA TERSINGGUNG

MEMILIH TAAT

TANDA ORANG YANG MENGANDALKAN TUHAN