EKONOMI KERAJAAN SURGA
EKONOMI KERAJAAN SURGA
2 KORINTUS 9:8 Dan Allah sanggup melimpahkan segala kasih karunia kepada kamu, supaya kamu senantiasa berkecukupan di dalam segala sesuatu dan malah berkelebihan di dalam pelbagai kebajikan.
Shalom
Dunia mengajarkan kita bahwa keamanan berasal dari memiliki lebih banyak uang, lebih banyak harta benda, lebih banyak pengaruh, dan lebih banyak kontrol. Ekonomi dunia ini didorong oleh ketakutan, persaingan, dan kelangkaan. Dunia akan berkata, "Dapatkan semua yang Anda bisa selagi ada kesempatan."
Ekonomi Surga sangat berbeda. Kerajaan Allah beroperasi berdasarkan kepercayaan daripada rasa takut, kemurahan hati daripada keserakahan, dan kesetiaan daripada mencukupkan diri sendiri. Yesus tidak menyuruh para pengikut-Nya untuk mengejar hal-hal materi. Sebaliknya, Ia memerintahkan mereka untuk mencari Kerajaan Allah terlebih dahulu, menjanjikan bahwa Bapa mengetahui kebutuhan mereka dan akan menyediakan bagi mereka (MATIUS 6:25-33).
Janda di Sarfat (1 RAJA-RAJA 17:8-16), mengalami ekonomi Surga. Selama kelaparan parah, dia hanya memiliki cukup tepung dan minyak untuk satu kali makan terakhir. Namun ketika dia mematuhi firman Tuhan untuk memberi lebih dulu sisa tepung dan minyaknya yang dibuat menjadi roti kepada Elia, maka tepung dan minyak tidak habis. Logika manusia mengatakan dia akan kehilangan segalanya, tetapi ekonomi Tuhan melipatgandakan apa yang dia serahkan dalam iman.
Demikian juga, memberi makan lima ribu orang (YOHANES 6:1-13), menunjukkan bahwa apa yang tampaknya tidak cukup di tangan kita menjadi berlimpah di tangan Kristus. Lima roti dan dua ikan tidak bisa memberi makan orang banyak, tetapi ketika ada di tangan Yesus, itu menjadi lebih dari cukup. Ekonomi Allah bukanlah jaminan kekayaan duniawi. Sebaliknya, itu adalah jaminan bahwa Allah dengan setia menyediakan apa yang benar-benar dibutuhkan anak-anak-Nya sesuai dengan kebijaksanaan-Nya yang sempurna. Dia memanggil kita untuk menjadi pelayan yang setia, hidup murah hati, mengelola hidup, dan ketergantungan penuh pada-Nya.
Ekonomi Surga dimulai dengan kepemilikan Tuhan. MAZMUR 24:1 mengatakan, "TUHANlah yang empunya bumi serta segala isinya, dan dunia serta yang diam di dalamnya". Semuanya milik Allah. Kita bukan pemilik tetapi pengelola yang dipercayakan dengan sumber daya-Nya. Uang, talenta, waktu, dan kesempatan kita adalah karunia untuk mengelola kepunyaan Tuhan di bumi ini.
Ekonomi Surga memprioritaskan Kerajaan Surga. Yesus membalikkan prioritas dunia. Alih-alih mengejar kekayaan pertama dan Tuhan kedua, orang percaya mengejar Tuhan pertama dan percaya kepada-Nya dengan kebutuhan mereka. Mencari Kerajaan berarti hidup di bawah pemerintahan Kristus, mematuhi firman-Nya, dan mengedepankan semua kepentingan Kerajaan Surga, bukan kepentingan kita.
Ekonomi Surga menghargai pemberian yang kita lakukan dengan hati yang penuh sukacita (2 KORINTUS 9:6-8). Allah senang dengan pemberi yang melakukannya dengan sikap hati yang penuh kerelaan dan sukacita. Apa yang kita beri seharusnya tidak pernah merupakan upaya untuk memanipulasi Tuhan agar Dia membalas pemberian itu berkali-kali lipat dan membuat kita kaya. Sebaliknya, itu adalah ekspresi iman yang mengakui bahwa Tuhan adalah sumber segalanya bagi hidup kita.
Percayalah pada Tuhan lebih dari rekening bank Anda. Tetaplah setia dengan apa yang telah Allah percayakan kepadamu. Berikan dengan murah hati tanpa rasa takut. Bekerjalah dengan tekun sambil bergantung pada ketentuan Allah. AMIN !
Amin🙏
BalasHapus