HATI YANG KERAS
JATUH DI PINGGIR JALAN - HATI YANG KERAS
LUKAS 8:5, 11-12 "Adalah seorang penabur keluar untuk menaburkan benihnya. Pada waktu ia menabur, sebagian benih itu jatuh di pinggir jalan, lalu diinjak orang dan burung-burung di udara memakannya sampai habis. Inilah arti perumpamaan itu: Benih itu ialah firman Allah. Yang jatuh di pinggir jalan itu ialah orang yang telah mendengarnya; kemudian datanglah Iblis lalu mengambil firman itu dari dalam hati mereka, supaya mereka jangan percaya dan diselamatkan.
Dalam Injil LUKAS 8, Yesus menceritakan perumpamaan tentang penabur. Ini sebenarnya bukan tentang penaburnya, tetapi tentang tanahnya. Benih (Firman Tuhan) menjadi sangat bermanfaat dan berkuasa, ketika diterima dengan benar. Keefektifan dari firman Tuhan itu bergantung pada kondisi hati yang menerimanya.
Ayat-ayat bacaan hari ini adalah gambaran hati yang keras, hati yang mendengar tetapi tidak menerima. Firman atau benih itu jatuh di pinggir jalan dan diinjak orang atau dimakan burung-burung. Pinggir jalan lambang dari lalu lalang manusia di dalam kehidupan sehari-hari. Rutinitas dan ketidakpedulian atas firman menjadi realita dimana-mana. Banyak juga yang memang tidak mau menerima kebenaran firman Tuhan.
Hati yang keras secara spiritual tidak responsif. Firman Tuhan tidak bisa menembus, firman tetap berada di permukaan. “Pinggir jalan” dalam perumpamaan Yesus adalah tanah yang telah berulang kali dilalui. Seiring waktu, tanah itu menjadi padat dan keras. Dengan cara yang sama, hati yang keras biasanya tidak terbentuk seketika, itu terbentuk seiring waktu.
Bagaimana hati menjadi keras? Itu karena penolakan berulang kali terhadap suara firman Tuhan. Setiap kali kita mengabaikan firman, maka kita menjadi pribadi yang kurang peka. IBRANI 3:15 mengatakan, Tetapi apabila pernah dikatakan: "Pada hari ini, jika kamu mendengar suara-Nya, janganlah keraskan hatimu seperti dalam kegeraman." Menunda ketaatan itu berbahaya. Tanggapan “nanti” seringkali menjadi tanggapan “tidak pernah”.
Hidup di dalam dosa juga bisa menumpulkan kepekaan rohani. IBRANI 3:13 menegaskan, "Tetapi nasihatilah seorang akan yang lain setiap hari, selama masih dapat dikatakan "hari ini", supaya jangan ada di antara kamu yang menjadi tegar hatinya karena tipu daya dosa". Dosa tidak hanya membuat kita merasa bersalah, tetapi juga membuat kita mati rasa.
Kesombongan dan ketergantungan pada diri sendiri juga akan membuat hati jadi keras dan tidak butuh firman. Hati yang berkata, “Aku tahu lebih baik” atau “Aku tidak membutuhkan Tuhan” akan menolak kebenaran.
Hati yang keras saat ini mungkin terlihat seperti mendengar khotbah sambil teralihkan perhatiannya, membenarkan dosa alih-alih bertobat, memperlakukan Kitab Suci sebagai informasi, bukan kebenaran. Pribadi ini mungkin terlihat tidak selalu memberontak secara terbuka, tetapi ia menolak firman secara diam-diam.
Dapatkah hati yang keras berubah? Ya, jika ada kerendahan hati dan hati yang mau terbuka untuk dipulihkan. Jangan menjadi pribadi seperti ini, selama Injil masih diberitakan, dengarkan, terima dan lakukan. Hidupmu tidak akan pernah sama lagi, karena ada hati yang baru yang dipenuhi damai, sukacita, bahkan hikmat Surgawi. AMIN !
Kasih karunia Tuhan cukup bagimu🙏
Amin
BalasHapusTuhan Yesus memberkati Amen
BalasHapus