HATI YANG BIMBANG

JATUH DI TENGAH SEMAK DURI - HATI YANG BIMBANG LUKAS 8:7, 14 Sebagian lagi jatuh di tengah semak duri, dan semak itu tumbuh bersama-sama dan menghimpitnya sampai mati. Yang jatuh dalam semak duri ialah orang yang telah mendengar firman itu, dan dalam pertumbuhan selanjutnya mereka terhimpit oleh kekuatiran dan kekayaan dan kenikmatan hidup, sehingga mereka tidak menghasilkan buah yang matang. Kondisi hati yang ketiga di dalam perumpamaan penabur adalah kondisi tanah yang dikelilingi duri. Dalam bagian perumpamaan ini, Yesus menggambarkan seorang yang menerima firman Allah, tetapi tidak menghasilkan buah. Tidak seperti hati yang keras atau dangkal, hati ini dimulai dengan baik, benih itu tumbuh. Tetapi ada sesuatu yang lain yang juga tumbuh, duri. Apakah duri itu? Yesus dengan jelas mendefinisikannya dalam ayat 14, kekhawatiran hidup, kecemasan, ketakutan, stres terus-menerus, kekayaan, obsesi terhadap uang, keamanan, kesuksesan, bahkan kesenangan dunia. Hal-hal ini tidak selalu jahat dengan sendirinya, tetapi menjadi berbahaya ketika bersaing dengan Tuhan untuk hati Anda. Perhatikan Yesus menggunakan kata "terhimpit". Tanaman itu tidak dicabut, tetapi terhimpit atau tercekik perlahan-lahan oleh "duri" yang adalah gangguan eksternal. Anda dapat pergi ke gereja, membaca Alkitab, tetapi tetap tidak dewasa secara rohani, karena perhatian Anda terbagi. Ini seperti mencoba menanam tanaman di kebun yang penuh dengan gulma atau tanaman pengganggu. Anda menyiraminya, memberinya sinar matahari, tetapi gulma mencuri nutrisi. Akhirnya, tanaman itu bertahan hidup tetapi tidak pernah tumbuh subur. Ponsel kita juga bisa menjadi penghambat pertumbuhan firman, karena kita dibombardir dengan bermacam-macam notifikasi, media sosial, tekanan kerja dan hiburan sia-sia. Tidak satu pun dari hal-hal ini tampak berbahaya secara individual, tetapi bersama-sama hal-hal ini berpotensi mengganggu waktu bersama Tuhan. Ingat, iblis sangat pandai untuk mengalihkan perhatian kita dari firman kepada hal lainnya yang akhirnya memenuhi pikiran dan hati kita dengan kekuatiran, kecemasan atau bahkan "kenikmatan" dunia. Tanyakan pada diri sendiri dengan jujur, “duri” apa yang tumbuh dalam hidupku saat ini? Apakah aku lebih fokus pada hal dunia, kesuksesan, atau kenyamanan daripada pada Tuhan? Apakah pertumbuhan rohaniku terhambat, dan perlahan melemah? Hati yang berduri berbahaya karena seringkali tampak sehat di luar, namun dihimpit oleh "duri-duri" dunia ini. Masalahnya bukanlah mendengar firman, tetapi apa yang kita izinkan tumbuh di hidup kita, akhirnya telinga rohani kita jadi bising karena banyak suara-suara, nilai-nilai dan cara dunia yang masuk ke pikiran kita. Firman Tuhan membutuhkan ruang untuk bertumbuh sehat. Firman membutuhkan prioritas dan perlindungan yang benar. Kita patut menjadikan firman prioritas dan melindunginya dengan keputusan setiap hari untuk mau dikuasai olehnya, sehingga hidup kita ada di dalam ketaatan. Tanpa itu, bahkan permulaan yang baik pun akan berujung pada akhir yang tidak berbuah. Hati yang berduri tidak berarti menolak Tuhan, namun memberi Tuhan ruang yang lebih sedikit, dan pada akhirnya, apa yang kita izinkan tumbuh akan menentukan apa yang menguasai diri kita. Lambat laun firman kebenaran bisa tidak lagi mendominasi pikiran dan hati kita, tetapi "duri" itu yang menguasai kita. Hati-hati. Singkirkan semua duri-duri di hidupmu, supaya firman bertumbuh dan berbuah. AMIN ! Kasih karunia Tuhan cukup bagimu🙏

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

HATI TERIKAT PADA TUHAN,BUKAN HARTA

HIDUP TANPA TERSINGGUNG

MEMILIH TAAT