KEDUKAAN DAN KESERAKAHAN

KEDUKAAN & KESERAKAHAN FILIPI 4:11 Kukatakan ini bukanlah karena kekurangan, sebab aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan. Shalom Kedukaan dan keserakahan mungkin terlihat sama sekali berbeda, tetapi keduanya dapat mengungkapkan apa yang terjadi di dalam hati kita. Kedukaan bisa juga berarti kesedihan yang sangat mendalam, atau sebuah ratapan karena kehilangan sesuatu atau seseorang. Sementara keserakahan merupakan sebuah perasaan yang ingin memiliki sesuatu atau seseorang yang belum kita miliki karena kita merasa kurang. Kedukaan mengatakan: "Aku kehilangan seseorang atau sesuatu yang sangat aku cintai". Sementara keserakahan mengatakan: "Saya harus memiliki lebih banyak karena apa yang saya miliki tidak cukup." Kedukaan adalah rasa sakit karena kehilangan sesuatu. Keserakahan adalah perasaan tidak puas karena belum memiliki. Alkitab mengajarkan kita bagaimana menanggapi keduanya. Kedukaan berkata, “Aku merindukan apa yang aku miliki.” ...

PERKATAAN YANG SIA-SIA


 *Perkataan yang Sia-sia Membocorkan Hayat*, bag 1


*Siapa menjaga mulutnya, memelihara nyawanya, siapa yang lebar bibir, akan ditimpa kebinasaan. - Amsal 13:3*

Kalau suatu wadah yang berisi air berlubang, meski­pun kecil sekali lubangnya, air yang ada di dalamnya akan bocor keluar dan habis. Masalahnya bukan ada airnya atau tidak, melainkan bocor atau tidak bocor. 

Ada saudara saudari, di hadapan Tuhan sangat menun­tut, ingin mengenal salib dan adakalanya juga rela memikul salib. Orang yang sedemikian itu seharusnya penuh dengan hidup yang luar biasa. Tetapi aneh sekali, adakalanya orang yang menuntut Tuhan, yang mempunyai kedambaan kepada Tuhan dan mau memikul salib, di atas dirinya sama sekali tidak terjamah adanya kehidupan. Yang Anda temukan di atas dirinya justru malah maut. Di manakah sebabnya? Sebabnya, *hidup yang diperolehnya telah bocor karena ulahnya sendiri.* Amsal 13:3 berkata, _"Siapa menjaga mulutnya, memelihara nyawanya. Si­apa yang lebar bibir, akan ditimpa kebinasaan."_


Sewaktu Salomo menulis sampai kata-kata ini, yang di­maksud dengan "nyawa" ini nyawa secara rohani atau secara jasmani. Saya tidak berani dengan tegas menentukannya. Tetapi baiklah dari sini kita ambil prinsipnya untuk melihat perkara rohani. Perkataan ini memperlihatkan kepada kita satu perkara, yaitu seorang yang menuntut Tuhan, seorang yang mempunyai hidup dalam Tuhan dan yang dengan hidup ini akan menyuplai gereja, ia harus berhati-hati terhadap per­kataannya. 

*Kalau perkataannya tidak berhati-hati, hudupnya akan bocor. Ada orang di tangan Tuhan tidak seberapa berguna, karena hidupnya bocor.* Di atas dirinya Anda hanya menja­mah maut, tidak menjamah hidup, karena dari bibirnya ia membocorkan hidup. Sebab itu, di hadapan Tuhan, kita harus menjaga mulut kita dengan ketat. 

Banyak pengalaman bisa memberitahu kita, tidak ada sesuatu pun yang membo­corkan hudup kita yang lebih hebat daripada perkataan yang sia-sia. Bukan berarti dosa lebih baik dari perkataan yang sia-sia. Di sini, selain dosa, perkara lain yang bisa membuat hidup kita musnah adalah perkataan yang sia-sia. 

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

HIDUP TANPA TERSINGGUNG

TANDA ORANG YANG MENGANDALKAN TUHAN

Terang yang Datang ke Dunia