DIUJI SAAT NYAMAN

DIUJI SAAT NYAMAN KEJADIAN 12:5 Abram membawa Sarai, isterinya, dan Lot, anak saudaranya, dan segala harta benda yang didapat mereka dan orang-orang yang diperoleh mereka di Haran; mereka berangkat ke tanah Kanaan, lalu sampai di situ. Shalom Abraham adalah orang kaya ketika Allah mengujinya. Tuhan tidak menguji Abraham karena ia tidak kehilangan apa-apa. Ia mengujinya karena Abraham telah menerima sesuatu yang berharga dan Allah ingin mengungkapkan apakah Abraham mengasihi Sang Pemberi lebih dari pemberianNya itu. Abraham sudah sangat diberkati sebelum ia diperintahkan Tuhan untuk meninggalkan negerinya di tanah Ur untuk pergi ke tanah Kanaan. Abraham sudah makmur secara material ketika Tuhan memanggilnya untuk meninggalkan Ur. Hal ini membuat panggilannya sangat signifikan, bahkan Abraham meninggalkan Ur tanpa mengetahui tujuannya kemana dia harus pergi. Tuhan hanya memberikan arah bukan tujuan akhir. Di KEJADIAN 12:1, Berfirmanlah TUHAN kepada Abram: "Pergilah dari negeri...

MEMBERI MAKAN PIKIRAN

 

Memberi Makan Pikiran

Ada dua orang pelancong asal Swiss yang melakukan pendakian di sebuah gunung. Saat pulang, mereka terpaksa menumpang sebuah mobil rombeng. Jalannya tersendat-sendat karena mesin tuanya.

Sepanjang jalan, pelancong pertama sibuk mencemaskan kondisi mobil. Ia tercekat pada kekuatiran kalau mobil itu mogok di tengah jalan. Ia kuatir kalau bensinnya habis dan tidak ada pom bensin di sana.

Sementara, pelancong kedua tampak santai-santai saja. Ia begitu menikmati pemandangan indah bukit-bukit di negeri cokelat itu. Bukit-bukit yang pucuknya dihiasi salju putih. Beberapa kali ia mengabadikan keindahan itu dengan kamera pocketnya.

Setelah satu jam berlalu, akhirnya mobil uzur itu pun tiba di kota yang dituju. “Kok kamu sempat-sempatnya ambil gambar pemandangan itu? Apa kamu tidak cemas?,” tanya pelancong pertama.

“Apa yang perlu dicemaskan. Seandainya ada masalah, pasti ada jalan keluarnya. Aku suka dengan perjalanan tadi. Bukankah pemandangannya indah sekali?” kata pelancong kedua.

Kisah tadi menolong kita untuk memahami bagaimana seringkali kekuatiran membuat kita kehilangan banyak hal yang berharga. Lebih buruknya lagi, seringkali kekuatiran itu tidak terbukti separah yang kita kuatirkan atau malah tidak terbukti sama sekali.

Kekuatiran diawali dari pikiran, ketika kita  ingin memiliki pikiran-pikiran yang positif tentu harus mengisinya dengan hal yang positif juga. Ketika ingin memiliki pikiran yang benar, tentu harus mengisi dengan hal yang benar, yaitu Firman Allah.
Pikiran kita dapat diisi dan diberi makan melalui apa yang kita baca, lihat dan dengar. Jika keseringan mengkonsumsi bacaan, siaran media atau audio yang me'nyajikan tentang hal negatif seperti gosip, fitnah, hoax, kata-kata makian dan tidak membangun, dll hasilnya dapat disimpulkan pikiran kita dipenuhi oleh hal yang akan membuat kita mudah kuatir. Tetapi jika kita membaca Firman, melihat media video dan audio tentang kebenaran firman TUHAN, kita sedang melatih diri untuk berpikir benar. 

FIlipi 4:7-8 menuliskan hal menarik,  "Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus. Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu"

Damai sejahtera melibatkan hati dan pikiran – berasal dari dalam – ga bisa dibuat-buat, atau dipura-pura. Pikiran yang salah dapat membuat perasaan menjadi salah juga, kekuatiran biasanya diawali dari pikiran, terlalu banyak berpikir yang bukan-bukan, terlalu parno, terlalu cemas, terlalu ragu, terlalu takut, pada akhirnya perasaan jadi galau. Pikiran itu adalah suatu hal yang kuat, semakin kita memikirkan suatu hal, hal tersebut akan semakin nyata dan kuat. 

Ketika saudara mengijinkan hati dan pikiranmu dipenuhi oleh damai sejahtera dari Allah, dilingkupi dengan kedamaian serta sukacita dari TUHAN, maka hati dan pikiranmu dan juga hidupmu akan bebas dari kekuatiran. 

Ayat 8 berkata “Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.” –THINK OUT OF THE BOX – berpikirlah lain dari pada orang lain – ketika semua orang berpikir hal-hal yang negatif hal-hal yang menjatuhkan, maka kita jangan ikut-ikutan. 

Berpikirlah hal-hal yang benar, yang membangun, yang menguatkan, yang membuat kita semakin intim dan erat melekat dengan TUHAN, sehingga mendapatkan kekuatan. Ketika kita mampu mengendalikan pikiran dengan cara mengkonsumsi hal yang benar, kita akan mampu menjalani kehidupan yang benar dan bebas dari rasa kuatir.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

HIDUP TANPA TERSINGGUNG

TANDA ORANG YANG MENGANDALKAN TUHAN

Terang yang Datang ke Dunia